PMII Logo

PB PMII

Opini

Menyambut Ramadan dalam Sangkar Modernitas, Mengembalikan Pesona Spiritualitas

Redaksi
11 Feb 2026, 15:00 WIB
47
Menyambut Ramadan dalam Sangkar Modernitas, Mengembalikan Pesona Spiritualitas

Oleh: Muh. Kamal, Biro Agama PB PMII

PMII.ID - Kita sering kali mendapati diri terjebak dalam keriuhan yang bersifat prosedural. dengan hiruk-pikuk persiapan logistik, jadwal buka puasa bersama, hingga kurasi konten dakwah di media sosial, esensi spiritualitas sering kali terancam oleh apa yang disebut Max Weber sebagai Entzauberung der Welt atau hilangnya pesona dunia, dalam terminologi ini Weber menggambarkan modernitas sebagai sebuah proses di mana dunia tidak lagi dipandang sebagai ruang makna yang sakral, melainkan sebuah objek yang dikelola secara teknis dan administratif.

Setiap menjelang Ramadan, kita selalu terlihat sibuk, dakwah estetik. Semuanya tampak rapi, terkurasi, dan produktif. Tapi justru ada kehampaan dan masalah yg juga monoton, Ramadan terasa semakin tertib, namun entah kenapa batin tetap sulit merasai damai. 

Modernitas, kata Weber, membuat manusia berhenti memandang dunia sebagai ruang makna, dan mulai memperlakukannya sebagai objek yang harus diatur, dihitung, dan dikelola. Sayangnya, agama pun sering ikut terseret ke logika yang sama: rapi secara administratif, tetapi kering secara spiritual. Ramadan lalu berisiko berubah menjadi sekadar rutinitas instrumental. Puasa direduksi menjadi urusan jadwal makan. Salat tarawih menjadi soal durasi tercepat. Sedekah dihitung dengan kalkulator pahala. Kesalehan diukur dari performa, bukan dari getaran batin. Inilah “sangkar modernitas” itu: agama diproduksi oleh rasio, tapi kehilangan daya menggetarkan jiwa.

Ironinya, manusia modern justru semakin masif dalam mengekspresikan agama. Simbol-simbol keislaman meluber ke ruang publik. Namun, pada saat yang sama, rasa hampa spiritual justru makin sering dirasakan. Agama ramai dipamerkan, tetapi batin tetap gagal menemukan ketenangan. Kita rajin beribadah, tapi mudah marah. Kita berpuasa, tapi tetap rakus secara sosial.

Jika puasa hanya dipahami sebagai perpindahan jam makan dan minum, sejatinya kita sedang memerangkap Tuhan dalam logika instrumental—Tuhan dihadirkan untuk mengafirmasi ego, identitas, dan rasa paling benar. Padahal Ramadan seharusnya menjadi momen re-enchantment: jeda untuk mengembalikan pesona spiritual yang selama ini terkikis oleh rutinitas dan statistik.

Puasa bukan sekadar latihan menahan, melainkan juga latihan memandang. Memandang sesama bukan sebagai objek—bukan lawan debat, bukan angka, bukan alat legitimasi—melainkan sebagai jiwa yang setara. Sayangnya, Ramadan kerap berubah menjadi kelas manajemen diri: disiplin waktu iya, tertib perilaku iya, tapi batin tetap tercecer di belakang dan luput di didik.

Gus Dur pernah mengingatkan bahwa spiritualitas sejati tidak tinggal di langit yang jauh. Ia hidup dalam welas asih, dalam relasi yang setara, dan dalam keberpihakan kepada mereka yang rapuh. Spiritualitas bukan soal seberapa lantang simbol agama dipertontonkan, melainkan seberapa sunyi ego bisa ditundukkan.

Di tengah agama yang semakin gaduh di ruang publik, barangkali kita justru perlu belajar dari figur yang nyaris tak bersuara: kiai kampung. Mereka bukan bintang dakwah, bukan pemilik kanal besar, tapi merekalah paku peradaban. Diam-diam menopang kehidupan rohani masyarakat tanpa sorotan.

Kiai kampung tidak sibuk memperdebatkan kebenaran di ruang abstrak. Mereka hadir ketika ada jenazah yang harus dimakamkan, konflik keluarga yang perlu didamaikan, atau warga yang sekadar butuh didengarkan. Otoritas mereka tidak lahir dari gelar, tetapi dari relasi. Dari kesetiaan. Dari pengabdian yang panjang.

Di saat agama di tangan elite kerap menjelma alat dominasi simbolik, kiai kampung menjaga agama tetap menjadi ruang peneguhan moral. Mereka membuktikan bahwa keberagamaan tidak harus bising untuk menjadi bermakna. Tidak harus tinggi untuk menjadi kuat.

Memang, teladan semacam ini kini semakin sulit ditemukan. Tapi justru di situlah tantangannya. Mencari dan meneladani mereka bukan sekadar nostalgia atau pilihan etis, melainkan komitmen teologis. Sebab peradaban tidak dibangun dari wacana besar semata, melainkan dari kesetiaan merawat nilai di ruang-ruang kecil, seperti para kiai kampung hidupi.

#pmii
#pbpmii
#nasional
#organisasimahasiswa
ADS

Advertisement

970 x 250

Baca Juga